Setiap orang pasti akan mendapatkan suatu pengalaman dalam hidup mereka dalam menjalani suatu hal yang baru. Itulah yang Yuni rasakan saat Yuni mendapatkan pengalaman dari Mojokerto kemarin. Banyak pengalaman yang Yuni dapatkan. Senang, sedih, tertawa, menangis. Banyak pengalaman yang Yuni dapatkan, tapi ada satu pengalaman yang membuat Yuni sangat berkesan, yaitu pengalaman Yuni belajar bersama Dani.
Mungkin Pembaca dan bingung siapa yang Yuni ceritakan ini. Yuni menceritakan tentang pengalaman Yuni bersama sepupu Yuni yaitu Dani. Dani adalah seorang remaja yang berusia 17 tahun. Benar, dia memang sebaya dengan Yuni. Bertubuh tinggi, putih dan agak kurus, itulah dia. Sepintas lalu, mungkin dia seperti kebanyakan orang. Namun, jika kita mengenalnya, dia sungguh berbeda. Dia menderita keterbelakangan mental. Seharusnya ia mendapatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas, namun dia harus bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa. Bahkan karena dia paling besar dari teman sepermainannya, dia sering diejek oleh teman-temannya. Tak hanya teman, keluarganya pula juga sering mencaci dan menghinanya sehingga Yuni sangat merasa kasihan kepadanya.
Dani memang seorang yang pemalu, dulu aku sangat takut jika berbincang dengannya, wajar dia sangat tempramental. Apalagi jika pikirannya berat atau kecapekan, dia pasti kejang. Itulah yang membuatku takut untuk berbincang dengannya, sehingga ia lebih dekat dengan kakakku. Bahkan bisa dibilang dia lebih menyukai kakakku dari pada kakakku sendiri. Mungkin karena kakaknya yang suka menghinanya, sehingga ia tak terlalu suka dengan kakaknya sendiri.
Yuni melihat Dani sangat berbeda dengan yang lain. Banyak hal yang Yuni pelajari darinya. Salah satu hal yang Yuni kagumi dari dia adalah dia sangat semangat untuk bersekolah dan sosialisasinya sangat tinggi. Dia sangat senang membantu orang lain. Bahkan, dia berangkat sekolah pukul 06.00, padahal sekolahnya baru masuk pukul 07.00. Saat Yuni tanya mengapa dia berangkat dsepagi it, dia menjawab dengan ciri khasnya yng agak cuek tapi manja," Aku bantu pak satpam bukain pintu sama nyapu kelas-kelas." Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban manisnya itu. Sangat lugu.
Suatu sore saat Yuni bristirahat sepulang dari renang, Dani duduk mendekati Yuni. Dia menutup mukanya sambil seolah-olah membaca buku yang dibawanya. Sambil mencuri pandangan padaku dia tersenyum. Ibunya berkata," Belajar bareng mbak Yuni situ, biar pinter!" Tiba-tiba ia langsung menyodorkan buku yang dibawanya itu kepada Yuni. Dengan tetap tersenyum, dia minta Yuni untuk mengajarinya membaca, menulis dan berhitung.
Saat itu yang dia bawa adalah buku belajar Bahasa Inggris, sehingga Yuni mengajarinya tentang angka dalam Bahasa Inggris. Ibu Dani meminta Yuni untuk mengajarinya membaca dahulu, kata beliau Dani masih belum bisa membaca. Saat Yuni mencoba memberi tes untuk membaca kepadanya, ternyata benar ia masih belum bisa membaca. yuni mulai mengajarinya membaca mulai dari menghafal huruf-hruf A hingga Z. Akhirnya sedikit-sedikit ia mulai bisa membaca meski dengan mengeja terlebih dahulu.
Yuni lihat dia mulai bosan dengan huruf-huruf tersebut, sehingga Yuni mencoba dengan yang lain. Dia meminta Yuni untuk mengajarinya matematika, akhirnya Yuni mengajarinya menghitung. Pertama-tama Yuni mengajarinya menggunakan tangan sebagai media pembelajaran. Lalu Yuni mencoba memberi pertanyaan padanya," Dan, 1+1= berapa?". Dia hanya terdiam sambil menutupi mukanya dengan bantal. Saat bantalnya Yuni ambil, Dani menutup mukanya dengan tangannya. Setelah Yuni buka tangannya, dia mulai mengambil bolpoin miliknya sambil mengarahkan pandangan ke buku tulisnya sambil memukulkan bolpoin ke kepalanya seolah-olah ia berpikir keras. Namun, perkiraan Yuni tidak salah, Dani memang benar-benar berpikir keras untuk menghitungnya meski akhirnya dia tidak bisa. Yuni sangat sedih sekaligus bangga melihatnya.
Tiap hari Yuni meluangkan waktu untuk mengajari Dani membaca, berhitung ataupun menulis. Memang orang yang mengajarinya harus sabar, namun mau apa dikata, itu kehendakNya. Apa yang tejadi maka tejadilah. Yuni yakin, jika Dani diperbolehkan untuk memilih, dia pasti akan memilih untuk menjadi seorang yang seperti pada umumnya.
Hitam, tak selamanya hitam. Akan ada putih dibalik semua hitam tersebut. Hitam bukanlah sebuah batu yang dapat mengguligkan kita ataupun noda yang menghalangi keindahan yang dapat menghalangi kita untuk terus maju. namun, Yuni yakin, ada suatu saat nanti hitam akan berubah menjadi putih dan kehidupan sebenarnya baru akan dimulai saat itu. Apapun kekurangan yang ada pada dirimu, jangan malu, kalau bisa jadikan kekurangan yang kamu miliki sebagai sebuah kelebihan yang pastinya akan membuat kamu lebih bahagia. Jadi, tetaplah tersenyum untuk menatap hari esok, seperti Dani yang tetap tersenyum dalam keadaan apapun yang melandanya.
Continue Reading...
Mungkin Pembaca dan bingung siapa yang Yuni ceritakan ini. Yuni menceritakan tentang pengalaman Yuni bersama sepupu Yuni yaitu Dani. Dani adalah seorang remaja yang berusia 17 tahun. Benar, dia memang sebaya dengan Yuni. Bertubuh tinggi, putih dan agak kurus, itulah dia. Sepintas lalu, mungkin dia seperti kebanyakan orang. Namun, jika kita mengenalnya, dia sungguh berbeda. Dia menderita keterbelakangan mental. Seharusnya ia mendapatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas, namun dia harus bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa. Bahkan karena dia paling besar dari teman sepermainannya, dia sering diejek oleh teman-temannya. Tak hanya teman, keluarganya pula juga sering mencaci dan menghinanya sehingga Yuni sangat merasa kasihan kepadanya.
Dani memang seorang yang pemalu, dulu aku sangat takut jika berbincang dengannya, wajar dia sangat tempramental. Apalagi jika pikirannya berat atau kecapekan, dia pasti kejang. Itulah yang membuatku takut untuk berbincang dengannya, sehingga ia lebih dekat dengan kakakku. Bahkan bisa dibilang dia lebih menyukai kakakku dari pada kakakku sendiri. Mungkin karena kakaknya yang suka menghinanya, sehingga ia tak terlalu suka dengan kakaknya sendiri.
Yuni melihat Dani sangat berbeda dengan yang lain. Banyak hal yang Yuni pelajari darinya. Salah satu hal yang Yuni kagumi dari dia adalah dia sangat semangat untuk bersekolah dan sosialisasinya sangat tinggi. Dia sangat senang membantu orang lain. Bahkan, dia berangkat sekolah pukul 06.00, padahal sekolahnya baru masuk pukul 07.00. Saat Yuni tanya mengapa dia berangkat dsepagi it, dia menjawab dengan ciri khasnya yng agak cuek tapi manja," Aku bantu pak satpam bukain pintu sama nyapu kelas-kelas." Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban manisnya itu. Sangat lugu.
Suatu sore saat Yuni bristirahat sepulang dari renang, Dani duduk mendekati Yuni. Dia menutup mukanya sambil seolah-olah membaca buku yang dibawanya. Sambil mencuri pandangan padaku dia tersenyum. Ibunya berkata," Belajar bareng mbak Yuni situ, biar pinter!" Tiba-tiba ia langsung menyodorkan buku yang dibawanya itu kepada Yuni. Dengan tetap tersenyum, dia minta Yuni untuk mengajarinya membaca, menulis dan berhitung.
Saat itu yang dia bawa adalah buku belajar Bahasa Inggris, sehingga Yuni mengajarinya tentang angka dalam Bahasa Inggris. Ibu Dani meminta Yuni untuk mengajarinya membaca dahulu, kata beliau Dani masih belum bisa membaca. Saat Yuni mencoba memberi tes untuk membaca kepadanya, ternyata benar ia masih belum bisa membaca. yuni mulai mengajarinya membaca mulai dari menghafal huruf-hruf A hingga Z. Akhirnya sedikit-sedikit ia mulai bisa membaca meski dengan mengeja terlebih dahulu.
Yuni lihat dia mulai bosan dengan huruf-huruf tersebut, sehingga Yuni mencoba dengan yang lain. Dia meminta Yuni untuk mengajarinya matematika, akhirnya Yuni mengajarinya menghitung. Pertama-tama Yuni mengajarinya menggunakan tangan sebagai media pembelajaran. Lalu Yuni mencoba memberi pertanyaan padanya," Dan, 1+1= berapa?". Dia hanya terdiam sambil menutupi mukanya dengan bantal. Saat bantalnya Yuni ambil, Dani menutup mukanya dengan tangannya. Setelah Yuni buka tangannya, dia mulai mengambil bolpoin miliknya sambil mengarahkan pandangan ke buku tulisnya sambil memukulkan bolpoin ke kepalanya seolah-olah ia berpikir keras. Namun, perkiraan Yuni tidak salah, Dani memang benar-benar berpikir keras untuk menghitungnya meski akhirnya dia tidak bisa. Yuni sangat sedih sekaligus bangga melihatnya.
Tiap hari Yuni meluangkan waktu untuk mengajari Dani membaca, berhitung ataupun menulis. Memang orang yang mengajarinya harus sabar, namun mau apa dikata, itu kehendakNya. Apa yang tejadi maka tejadilah. Yuni yakin, jika Dani diperbolehkan untuk memilih, dia pasti akan memilih untuk menjadi seorang yang seperti pada umumnya.
Hitam, tak selamanya hitam. Akan ada putih dibalik semua hitam tersebut. Hitam bukanlah sebuah batu yang dapat mengguligkan kita ataupun noda yang menghalangi keindahan yang dapat menghalangi kita untuk terus maju. namun, Yuni yakin, ada suatu saat nanti hitam akan berubah menjadi putih dan kehidupan sebenarnya baru akan dimulai saat itu. Apapun kekurangan yang ada pada dirimu, jangan malu, kalau bisa jadikan kekurangan yang kamu miliki sebagai sebuah kelebihan yang pastinya akan membuat kamu lebih bahagia. Jadi, tetaplah tersenyum untuk menatap hari esok, seperti Dani yang tetap tersenyum dalam keadaan apapun yang melandanya.


Setiap orang pasti butuh yang namanya makan, karena jika kita tidak makan, kita dapat menjadi lemas atau bahkan sakit. Kita memang makan untuk hidup tapi bukan berarti hidup untuk makan
