Social Icons

Pages

Minggu, 13 Februari 2011

Otak Vs Batu


Assalamualaikum...

sebelumnya saya minta maaf kepada semua temen blogger yang sering berkunjung ke rumah Yuni yang satu ini. Beberapa kesibukan membuatku jarang ada waktu untuk membuat postingan, sekalipun ada aku hanya bisa membuat sedikit artikel saja yang aku letakkan di rumah sebelah. Jadi rumah yang ini agak sepi.


Teringat ketikadiriku masih belajar di surau, pak Kyai bercerita tentang sebuah kisah Ibnu Hajar. Ibnu Hajar merupakan ulama besar yang hingga sekarang disegani oleh kaum muslim.

Dulu, Ibnu Hajar masih nyantri di pondok pesantren. Ilmunya pas-pasan, bahkan banyak materi yang tidak bisa beliau cerna dan dicap sebagai orang bodoh. Setiap hari beliau belajar, mengkaji, menelaah buku dan kitab serta berdoa kepada Allah, namun tetap saja beliau masih belum bisa mengerti. Semakin dalam ia membaca, semakin bertambah bingung.

Hingga suatu saat beliau memutuskan untuk melakukan perenungan ke dalam lereng gunung. Kemudian beliau beristirahat di bawah sebuah pohon rindang. Beliau berdoa kembali kepada Allah agar diberi kemudahan mempelajari ilmu. Di sanalah Allah memberikan pencerahan dan petunjuk kepada Ibnu Hajar. Petunjuk yang sepele tapi bermakna luar biasa.

Secara tidak sengaja, Ibnu Hajar melihat sebuah batu besar nan keras yang di atasnya ditetesi oleh air yang berasal dari dataran tinggi. Pada awalnya tidak ada keanehan yang ada pada batu tersebut, namun setelah diamati sekian lama akhirnya beliau mendapatkan sebuah pencerahan dari Allah melalui batu besar tersebut. Batu tersebut akhirnya terkikir dan membentuk lubang setelah ditetesi oleh air.

Setelah melihat kejadian tadi beliau mendapat inspirasi dan menyimpulkan bahwa batu yang besar saja bisa terkikis dan berlubang karena ditetesi air terus-menerus, apalagi otak beliau yang tak sekeras batu (lunak).

Alhasil, beliau memutuskan kembali ke pondok pesantren dan belajar dengan giat dan pantang menyerah. Setiap hari tanpa henti beliau mencoba memahami kata per kata. Tak lupa beliau juga berdoa karena Allah-lah yang memberi ilmu, sang pemilik ilmu sejati. Hingga akhirnya beliau menjadi alim, tak bodoh dan hingga sekarang masih disegani oleh kaum muslim.

Ya itu tadi cerita yang pernah diceritakan oleh pak Kyai saat aku masih menjadi santri di surau. Cerita ini pula yang membuat aku pantang menyerah mencari ilmu. Sebenarnya bukan hanya ilmu saja, tapi juga dapat diterapkan dalam dunia karir. Kita jangan pernah berputus asa akan sesuatu. Semua pasti dapat dilakukan dengan baik selama kita serius dan pantang menyerah.